Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Kapribaden Putro Romo - Penghayat Kapribaden Putro Romo


SEJARAH KAPRIBADEN

Sejarah - Sejajar Searah , Paguyuban - Papan Kanggo Guyub Rukun

Paguyuban penghayat Kapribaden Putro Romo 

Kapribaden Putro Romo adalah aliran kepercayaan di Jawa yang didirikan oleh Romo Semono Sastrohadidjojo (Herucokro Semono) pada 14 November 1955 di Purworejo. 

Fokus ajarannya adalah mengenal diri sendiri (kapribaden) melalui olah rasa untuk menyatu dengan urip (hidup/roh) guna mencapai Tuhan. Penghayatnya menyebut diri sebagai Putro Romo.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai ajaran Kapribaden Putro Romo

  • Pencetus & Ajaran : Romo Semono menerima wahyu Panca Gaib (kunci, asmo, mijil, singkir, paweling) sebagai sarana laku spiritual.
  • Tujuan: Mengenal diri sendiri untuk bisa mengenal Tuhan Yang Maha Esa dan mencapai kesempurnaan hidup.
  • Konsep Utama : Manunggaling Urip (menyatu dengan hidup/roh sejati) dalam raga manusia
  • Perilaku: Menekankan pada sabar, narima, ngalah, tresna welas asih marang sopo wae lan ikhlas (sabar, menerima, mengalah, kasih sayang kepada siapa saja, dan ikhlas)
  • Paguyuban : Penganutnya sering disebut sebagai Warga Kadhang Putro Romo.
  • Ajaran ini berpusat di Gunung Damar/Kalinongko, Purworejo, Jawa Tengah

Sejarah Kapribaden yang saya cuplik dari  Laman Paguyuban Penghayat Kapribaden Pada tanggal 29 April 1978, dihadapan 5 orang Putro, Romo menerbitkan satu-satunya Sabdo Tinulis, dengan huruf Jawa (Honocoroko), yang berbunyi : “ ROMO Mangestoni, Putro-Putro Kudu Ngakoni Putro ROMO.” 

Sekalipun Putro yang menghadap waktu itu 5 (lima) orang, yaitu :

  • Dr. Wahyono Raharjo GSW, MBA (Alm) dan Ibu Hartini Wahyono, 
  • Drs. Soehirman, 
  • S. Parmin (Alm) dan 
  • Sakir. 
Tetapi Romo menyebut yang menghadap 4 orang, karena Wahyono dan Istrinya, bagi Romo selalu dihitung satu. Bahkan beliau dawuh, kalau yang sowan saat itu tidak ada wanitanya, maka akan ditinggal tidur oleh Romo.

Sabdo tinulis itu ditulis pada tutup kue dadar-gulung berwarna merah-putih. Penjelasan Romo : 

“ ditulis ono tutup, kareban Putro-Putro podo nyawang mengisor, sebab Putro-Putro isih pada nyawang menduwur. Ben podo nyawang sing urip ono ngisor kreteg”.

Putro Putro yang sowan didawuhi memperbanyak sabda tinulis itu dan menyebar-luaskan ke semua Putro.
Putro Putro yang menghadap saat itu mohon petunjuk cara ” ngakoni Putro Romo ”

Dan Romo ndawuhi Membentuk Paguyuban yang kemudian bernama Paguyuban Penghayat Kapribaden. Sesuai dengan KTP Romo Semono maupun ibu Tumirin, tertulis Kapribaden.

Dr. Wahyono sampai 3 kali menolak, dengan alasan : “ mangke mboten wurung nami / wahyono pun dhadhosaken ontran-ontran ing kalangan Putro Putro”. 

Kemudian Romo dawuh : “Siro ora pareng nolak, amorgo iki wis dikersakake Moho Suci”. 

Maka dengan sangat berat Dr. Wahyono akhirnya menyatakan sanggup. 

Dr. Wahyono mengemukakan syarat atau permintaan kepada Romo : “ Dalem sagah, nanging nyuwun Romo Dhawuhi langsung Putro Putro, supados sampun ngantos Putro Putro nginten wontenipun paguyuban saking kajengipun Wahyono.” 

Romo menyanggupi (bisa di cek melalui Bapak S. Soenarjo, Surabaya. Beliau langsung didawuhi Romo, tidak melalui Dr. Wahyono, bahkan kemudian Romo sendiri membagi-bagikan formulir bagi Putro-Putro)

Sewaktu 5 orang Putro yang sowan itu pamit pulang, sampai di depan kamarnya Romo Semono, lengan Dr. Wahyono beliau pegang dan disuruh menunggu di depan kamar Romo Semono. Ternyata beliau mengambil sesuatu yang dibungkus kain merah. 

Kain merah pembungkusnya beliau buang di lantai. Ternyata isinya sebatang tongkat berwarna coklat kehitam-hitaman. Tongkat itu ternyata dari Galih Kelor. Lalu beliau berikan kepada Dr. Wahyono dengan disertai sabdo : “Iki tongkat komando, jeneng siro wis ngerti tegese. Sopo wae sing mbangkang, sektiyo, Digdhayoa koyo ngopo, mbok dhudhul iki mesti modar. Siro ora usah was sumelang amargo sakabeheing bolo sirolah bakal sabiyantu marang jeneng siro. Iki sabdane Moho Suci, Tampanana” 

Dari 4 orang yang berdiri di belakang Dr. Wahyono, saat itu ada 2 orang yang terlempar sampai membentur dinding di seberang.

Persiapan persiapan dilakukan. Saat itu sangat berat dan sulit, mengingat keberadaan Putro Romo masih dilarang oleh pihak pemerintah Orde Baru. (kemudian baru diketahui bahwa alasan sebenarnya adalah karena Bung Karno adalah Putro Romo, sehingga Romo Semono dicap sebagai gurunya Soekarno). 

Jadi berbagai langkah strategis dan taktis terpaksa dilakukan, dan akhirnya Paguyuban Penghayat Kapribaden bisa diresmikan berdirinya. Upacara ritual dilakukan di Sanggar Sasono Adiroso, sedang upacaranya di Anjungan Mataram Taman Mini Indonesia Indah. Tepatnya malam Senen Pahing 30 Juli 1978.

Sebelum peresmian, Putro Putro Jakarta sowan Romo dulu untuk mohon petunjuk.

Kemudian, Dr. Wahyono diantar Bapak S. Hoetomo, menggunakan kendaraan kadhang Hendra Yudianto, yang juga ikut, 2 bulan keliling ke daerah-daerah, tanpa pulang, untuk membentuk Paguyuban di daerah-daerah, sekaligus mengantarkan pengurus di daerah mendaftar ke 5 instansi pemerintah. Kalau provinsi ke 7 instansi, Pusat ke 9 instansi. Ini agar Kapribaden diakui sah menurut Undang-Undang Negara. Tidak hanya resmi diakui Pemerintah.

Kemudian dengan wadah Paguyuban Penghayat Kapribaden, bisa dipaparkan Paringan dan Wulang Wuluk Romo (secara umum disebut ajaran), sehingga diakui sah, yang berarti sah kalau dijalani, disampaikan kepada orang lain, di wilayah hukum Republik Indonesia.

Itulah sejarah singkat adanya Paguyuban Penghayat Kapribaden. Tentu saja dalam kesempatan ini tidak dibeberkan secara lengkap, termasuk betapa besar kesulitan yang harus dihadapi dan betapa besar pula pengorbanan Putro Putro serta resiko yang dihadapi waktu itu. 



Rama Raga Semono Wangsul (Meninggal DUnia) ing Dina Selasa Pon, 3 Maret 1981

Para Kadhang Putro Romo ing Saben Tanggal 3 Maret di Pengeti - Pada Juguran - Pada lek Lekan (Ora Turu) - Pada Kumpul Sesarengan Mengeti Wangsule Romo Rogo ing Alam Mula Milanya.

 


 

Ramane Inu
Ramane Inu Desa Pekunden Banyumas

Posting Komentar untuk "Sejarah Kapribaden Putro Romo - Penghayat Kapribaden Putro Romo "