Mamas : Penilaian Desa Wisata - Desa Sikapat Kec. Sumbang Banyumas (25/6/2026)
Dokumentasi - Mamas Anak Lanang
Hari ini Kamis Pon, 25 Juni 2026 di Desa Sikapat Kec. Sumbang, Kab. Banyumas di gelar acara Penilaian Desa Wisata. Penilaian Desa Wisata ini merupakan bagian dari Program Bupati Banyumas - Trilas Program Bupati - Wakil Bupati Banyumas - Sadewo - Lintarti.
Tujuan Penilaian Desa Wisata - Desa Wisata Sikapat ini kurang lebih adalah Desa Sikapat ingin berupaya menaikkan kelas desa — dari yang tadinya sekadar " Potensi " menjadi " Destinasi Wisata " yang mandiri, berkualitas, dan mampu menyejahterakan masyarakat secara berkelanjutan.
Hadir dalam kegiatan ini :
- Ir. Junaedi, M.T
- Bahrudin Adyatama, S.E., M.Si
- Dhimas Nurseto Adi, S.Par
- Rudi Pamungkas, S.T
- Faisal Rizky Y, S.E., M.M
- Novanda Alim SN, S.S., M.Hum
TUJUAN PENILAIAN
Secara garis besar, berikut adalah tujuan utama dari penilaian Desa Wisata Kurang lebih Sbb.,:
- Pemetaan Potensi dan Standardisasi
Penilaian ini berfungsi sebagai cermin untuk melihat posisi desa tersebut. Lewat indikator yang diuji (seperti atraksi, amenitas / fasilitas, kelembagaan, dan CHSE), pemerintah dan pengelola bisa tahu :- Apa saja keunggulan yang bisa diangkat.
- Di mana letak kekurangan yang harus segera diperbaiki agar sesuai standar nasional/internasional
- Peningkatan Kualitas Pelayanan dan FasilitasDengan adanya kompetisi atau penilaian (seperti ADWI - Anugerah Desa Wisata Indonesia), pengelola desa dan masyarakat setempat jadi terpacu untuk berbenah. Mulai dari kebersihan toilet, kualitas homestay, keramahtamahan pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), hingga pengelolaan sampah digital/berkelanjutan.
- Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Lokal)Tujuan akhir dari desa wisata adalah kesejahteraan warganya. Penilaian ini mendorong desa untuk mengoptimalkan UMKM, kerajinan tangan, kuliner lokal, dan pemandu wisata dari warga setempat. Kalau penilaiannya bagus, ekonomi lokal otomatis ikut berputar lebih kencang.
- Media Promosi dan Pemasaran (Branding)Desa yang masuk dalam daftar penilaian resmi — apalagi kalau sampai menang atau dapat sertifikasi (seperti Desa Wisata Maju / Mandiri)—akan mendapatkan eksposur media yang luar biasa. Ini adalah marketing gratis yang bikin wisatawan domestik maupun mancanegara jadi penasaran untuk datang.
- Keberlanjutan Lingkungan dan Budaya (Sustainability)Penilaian desa wisata zaman sekarang cukup ketat, soal pelestarian budaya lokal dan alam. Tujuannya agar pariwisata yang berkembang tidak merusak adat istiadat setempat atau mengeksploitasi alam secara berlebihan, melainkan menjaganya agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
PERSYARATAN DESA WISATA
Secara umum (merujuk pada standar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), berikut adalah syarat utama dan kriteria dasar yang harus dipenuhi untuk menjadi Desa Wisata, kurang lebih Sbb.,:
- Memiliki Potensi Wisata yang Khas (Atraksi)Desa tersebut harus punya modal utama yang menarik untuk dikunjungi, baik berupa :
- Wisata Alam: Air terjun, sawah berundak, pantai, atau gua.
- Wisata Budaya: Adat istiadat, tarian tradisional, kerajinan khas, atau bangunan bersejarah.
- Wisata Buatan/Kreatif: Edukasi pertanian, kebun petik buah, atau aktivitas outbond.
- Memiliki Fasilitas Pendukung (Amenitas)Wisatawan yang datang butuh kenyamanan dasar. Desa harus menyediakan atau setidaknya memiliki akses Menuju ke :
- Akomodasi yang layak (seperti homestay yang menyatu dengan rumah warga).
- Fasilitas umum (toilet bersih, tempat ibadah, tempat parkir).
- Warung makan atau penyedia kuliner lokal.
- Aksesibilitas yang MemadaiLokasi desa harus bisa dijangkau oleh wisatawan. Syaratnya meliputi :
- Kondisi jalan yang aman untuk kendaraan (minimal roda dua atau roda empat standar).
- Petunjuk arah atau koordinat peta digital yang jelas agar tidak membingungkan pengunjung.
- Kelembagaan dan Pengelola (Pokdarwis)Ini salah satu syarat paling krusial. Harus ada organisasi lokal yang mengelola operasional wisata tersebut. Biasanya dibentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) atau melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) agar pengelolaannya profesional dan terstruktur.
- Dukungan dan Komitmen Masyarakat (Sadar Wisata)Masyarakat setempat harus menerima dan mendukung penuh desanya dijadikan tempat wisata. Konsep desa wisata adalah Community Based Tourism / Pariwisata Berbasis Masyarakat, jadi warga bukan cuma jadi penonton, tapi aktif menerapkan prinsip Sapta Pesona.SAPTA PESONA :
- Aman,
- Tertib,
- Bersih,
- Sejuk,
- Indah,
- Ramah, dan
- Kenangan).
- Keberlanjutan Lingkungan (Sustainability)Desa tersebut wajib memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian alam dan budaya setempat. Aktivitas wisata tidak boleh merusak lingkungan atau mengikis nilai-nilai luhur masyarakat desa.
TAHAPAN KATEGORI DESA WISATA
Setelah memenuhi syarat-syarat di atas, desa biasanya akan dikategorikan ke dalam beberapa tingkatan sesuai kesiapannya
- Desa Wisata - RintisanBaru memiliki potensi dan mulai dikunjungi, fasilitas masih terbatas.
- Desa Wisata - BerkembangSadar wisata mulai tumbuh, fasilitas dan kelembagaan sudah mulai tertata, sudah ada kunjungan rutin.
- Desa Wisata - MajuMasyarakat sudah mandiri mengelola, fasilitas lengkap, dan perputaran ekonomi dari wisata sudah terasa nyata.
- Desa Wisata - MandiriSudah dikenal luas (bahkan internasional), inovatif, dan menjadi percontohan bagi desa lain
Penentuan status Desa Wisata Rintisan, Berkembang, Maju, dan Mandiri diatur secara resmi melalui sistem penilaian evaluasi mandiri (self-assessment) di platform JADESTA (Jejaring Desa Wisata) oleh Kemenparekraf
Klasifikasi ini ditentukan berdasarkan total rentang skor dari instrumen Instansi pedoman teknis pengembangan desa wisata kurang lebih Sbb.,:
| Klasifikasi Desa | Rentang Skor Total | Karakteristik Utama Kesiapan Desa |
| RINTISAN | 24 - 48 | Baru memiliki potensi dasar (alam/budaya), sarana-prasarana masih sangat terbatas, kunjungan wisatawan masih minim, dan kesadaran masyarakat baru mulai dirintis. |
| BERKEMBANG | 49 - 73 | Sudah mulai dikenal dan dikunjungi warga luar daerah. Kesadaran wisata masyarakat mulai tumbuh, serta sudah ada sarana pendukung dasar meskipun belum terkelola optimal |
| MAJU | 74 - 96 | Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) sudah aktif mengelola dengan baik. Sarana, prasarana, dan aksesibilitas (3A) sudah memadai, serta masyarakat merasakan langsung dampak ekonominya. |
| MANDIRI | > 96 (Skor Maksimal) | Masyarakat sudah sepenuhnya berinovasi secara digital. Sanggup memasarkan produk wisatanya secara mandiri ke tingkat internasional, serta mengedepankan pariwisata berkelanjutan berkelasa dunia. |
Skor di atas tidak muncul begitu saja, melainkan dihitung dari pembobotan beberapa parameter atau indikator utama yang diisi oleh pengelola desa tsb.
- Daya Tarik Wisata (Atraksi)Keunikan wujud wisata alam, budaya, maupun buatan yang ditawarkan ke pengunjung
- Amenitas (Fasilitas)Ketersediaan homestay, toilet umum yang bersih dan layak, tempat ibadah, serta warung kuliner lokal
- Aksesibilitas & DigitalisasiKemudahan akses jalan, sinyal internet, metode pembayaran digital (QRIS), hingga promosi digital
- Kelembagaan & SDM
Keaktifan Pokdarwis, legalitas hukum kepengurusan (Perdes/SK), kompetensi pemandu wisata, serta dukungan penuh dari pemerintah desa - Resiliensi & Keberlanjutan LingkunganManajemen pengelolaan sampah, keselamatan (K3), mitigasi bencana, serta pelestarian adat istiadat setempat
Sistem self-assessment di platform JADESTA Kemenparekraf akan otomatis mengunci status desa berdasarkan dokumen pembuktian dan isian yang diunggah pengelola. Nilai ini juga menjadi acuan utama jika desa berniat mengajukan bantuan pendanaan daerah atau mendaftar ke ajang bergengsi seperti ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia).

Posting Komentar untuk "Mamas : Penilaian Desa Wisata - Desa Sikapat Kec. Sumbang Banyumas (25/6/2026)"