Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mamas Jadi Panitia di Acara Ruwat Sukerta - Banyumas Aestetik Kota Lama - Ruwat Sukerta - Tahun 2026 (19/7/2026)



Dokumentasi - Larung Ruwat Sukerta di Pinggir Kali Serayu Banyumas
 
Tradisi Ruwat Sukerta (atau Ruwatan) dalam budaya Jawa diselenggarakan khusus untuk Wong Sukerta, yaitu orang-orang yang menurut kepercayaan tradisi Jawa berada dalam kondisi rawan marabahaya, kesialan, atau ancaman gaib (seperti menjadi mangsa Batara Kala).

Tujuan utama dari upacara ini adalah membebaskan, menyucikan, dan memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar orang tersebut terhindar dari malapetaka.
 
Hari ini Minggu Paing, 19 Juli 2026 bertempat di Bale Adipati Mrapat Kec. Banyumas di gelar Acara Ruwat Sukerta, Arak Arakan Acara Ruwat Sukerta Star dari Depan Bale Adipati Mrapat Menuju Ke Pinggir Kali Desa Kedunguter Depan Balai Desa Kedunguter Banyumas. 
 
 



Siapa Saja yang Termasuk " Wong Sukerta " 
Kategori orang yang perlu diruwat umumnya dibagi berdasarkan silsilah/jumlah anak dalam keluarga serta kejadian khusus / ketidaksengajaan
 
1. Berdasarkan Jumlah dan Komposisi Anak
  • Ontang-Anting : Anak tunggal (satu-satunya anak dalam keluarga, baik laki-laki maupun perempuan).
  • Kedhana-Kedhini : Dua orang anak, terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan
  • Kembang Sepasang : Dua orang anak, keduanya perempuan.
  • Uger-Uger Lawang : Dua orang anak, keduanya laki-laki.
  • Sendhang Kapit Grojogan: Tiga orang anak dengan urutan laki-laki — perempuan — laki-laki.
  • Grojogan Kapit Sendhang: Tiga orang anak dengan urutan perempuan — laki-laki — perempuan.
  • Saramba : Empat orang anak, semuanya laki-laki.
  • Sarimpi : Empat orang anak, semuanya perempuan.
  • Pandhawa Lima : Lima orang anak, semuanya laki-laki.
  • Pandhavi (Padangan): Lima orang anak, semuanya perempuan.
2. Berdasarkan Kelahiran atau Kondisi Fisik Khusus
  • Anak Julung: Anak yang lahir tepat saat matahari terbit (Julung Pujud), menjelang tengah hari, atau tepat saat matahari terbenam (Julung Caplok).
  • Anak Margana: Anak yang lahir di tengah perjalanan.
  • Anak Wahaha: Anak yang lahir bersamaan dengan adanya bencana alam.

3. Berdasarkan Perbuatan/Ketidaksengajaan (Sukerta Kesandhung)
  • Orang yang secara tidak sengaja melakukan kesalahan tertentu yang dianggap merusak simbol-simbol kehidupan juga dianggap sebagai sukerta, contohnya : Nglumprukkan Gandhik: Orang yang secara tidak sengaja mematahkan atau merusakkan alat penumbuk/pengulek jamu atau bumbu.

  • Robohnya Dandang/Kuali: Orang yang tidak sengaja menjatuhkan atau merusakkan tempat menanak nasi yang sedang digunakan di atas tungku.

  • Mematahkan Alat Tenun/Pertanian: Orang yang tidak sengaja merusakkan peralatan penting pencari nafkah keluarga.

Makna Filosofis Ruwatan
Secara simbolis, Ruwat Sukerta mengandung pesan moral yang mendalam:
  • Bentuk Ikhtiar & Doa: Memohon perlindungan dan keselamatan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Pengingat Kesadaran (Eling): Mengajarkan agar manusia selalu berhati-hati dalam bersikap, menjaga keharmonisan keluarga, dan menghargai alam sekitar.

Ramane Inu
Ramane Inu Desa Pekunden Banyumas

Posting Komentar untuk "Mamas Jadi Panitia di Acara Ruwat Sukerta - Banyumas Aestetik Kota Lama - Ruwat Sukerta - Tahun 2026 (19/7/2026)"